Pertemuan Menlu, Pegawai Deplu, Duta Besar dan Ketua Delegasi Iran di Luar Negeri (2010/03/01 - 09:46)
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah
Sayyid Ali Khamenei hari Ahad (28/2) dalam pertemuan bersama Menteri Luar
Negeri, para pegawai Departemen Luar Negeri, duta-duta besar dan kepala
delegasi Iran di luar negeri menyebut Revolusi Islam Iran sebagai pencipta
sebuah logika dan politik baru dalam hubungan internasional atas nama “politik
interaksi anti-hegemoni”. “Kewajiban duta dan delegasi Republik Islam Iran
adalah menggunakan diplomasi berkualitas, kuat dan efektif untuk meningkatkan
“politik anti- hegemoni dan syaratnya adalah bertahan secara logis berdasarkan
prinsip Revolusi, syariat dan tegas soal prinsip dan fondasi ini.” Tegas
Rahbar.
Seraya menekankan bahwa pelaksanaan praktis “politik anti-hegemoni”
hanya terbatas pada Republik Islam Iran, beliau menambahkan, “Dalam kekuatan
hegemoni terdapat dua sisi, yang satu penguasa dan yang lainnya adalah yang mau
dikuasai. Namun Republik Islam Iran sejak awal telah mengumumkan bahwa ia bukan
penguasa dan juga tidak mau dikuasasi oleh negara manapun.”
Saat mengisyaratkan kemodernan “politik anti-hegemoni” di dunia
dan sambutan sejumlah negara, tokoh, dan cendikiawan atas logika baru di kancah
hubungan internasional ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan,
“Politik anti-hegemoni memiliki sandaran dan dukungan strategi yang kuat. Salah
satunya adalah dukungan besar rakyat terhadap Revolusi Islam Iran.”
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menekankan bahwa gerakan rakyat
sejak hari pertama Revolusi Islam Iran sampai saat ini tidak pernah berkurang,
berbeda dengan sebagian Revolusi yang terjadi di dunia. Ditambahkannya, “Di
negara mana kalian temukan pasca 31 tahun, partisipasi rakyat dalam peringatan
hari ulang tahun Revolusi bukan hanya tidak berkurang, bahkan malah bertambah
banyak? Dukungan partisipasi rakyat ini merupakan masalah penting yang hanya
terkait dengan Republik Islam Iran.”
Beliau menyebut kemajuan sains dan teknologi ilmuwan muda
Iran yang mengagumkan merupakan satu lagi dari sejumlah dukungan strategi
politik anti-hegemoni. Ditambahkannya, “Satu lagi dari sejumlah dukungan ini
adalah partisipasi rakyat yang tak ada duanya dalam pemilu presiden sebagai
simbol indah demokrasi yang bukan hanya tidak berkurang bahkan malah bertambah
banyak.”
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menilai kesuksesan dan
pembangunan besar-besaran di setiap periode pemerintahan dan aktivitas luas
sosial merupakan dukungan strategi lainnya terhadap politik anti-hegemoni.
Beliau menegaskan, “Semua dukungan strategi ini memberikan semangat jiwa dan
sarana percaya diri kepada delegasi Republik Islam Iran di luar negeri sehingga
bisa membawa maju politik modern anti-hegemoni berdasarkan tiga unsur asli
kemuliaan, kebijakan dan kebaikan dengan bersandar pada dukungan-dukungan
tersebut.”
Beliau menilai penting menggunakan kekuatan diplomasi untuk
memajukan politik ini dan mengatakan, “Kekuatan dan pengaruh diplomasi tidak kurang
penting dari kekuatan militer, propaganda dan uang, bahkan dalam beberapa hal
lebih berpengaruh. Oleh karena itu, pelaksanaan politik anti-hegemoni harus menggunakan
diplomasi kuat dan efektif berdasarkan logika, akal dan rasa percaya diri.”
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyebut syarat diplomasi
kuat dan efektif adalah pertama harus percaya pada prinsip-prinsip syariat dan
pemikiran-pemikiran Revolusi Islam. Dikatakannya, “Di arena diplomasi, harus menunjukkan
sikap nasionalisme dan tidak segan mempertahankan prinsip Revolusi dan agama.”
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menilai upaya mempertahankan
prinsip-prinsip Revolusi dan syariat sebagai titik kuat sistem diplomasi
Republik Islam Iran dan menekankan, “Pertahanan dibarengi dengan logika adalah
kekuatan dan hal ini akan memaksa lawan untuk hormat dan tunduk.”
Seraya menyinggung sebagian pemikiran salah di tahun-tahun
lalu terkait keharusan menggunakan sejumlah pengertian, cara dan protokoler
yang dimaukan Barat untuk menyamakan dan mendekatkan diri dengan mereka, Rahbar
mengatakan, “Segelintir orang ini berpikir bahwa dengan mengulangi sejumlah
pengertian Barat dan menyerah di hadapan mereka, kedudukan dan posisi kita akan
bertambah meningkat, padahal segala ucapan dan pengertian Barat sudah basi dan terkait
dengan 200 tahun yang lalu. Namun ucapan dan politik Republik Islam Iran adalah
sebuah ide modern dan berpengaruh.”
Saat menyampaikan Penghargaannya atas terlaksananya pelbagai
program di Departemen Luar Negeri, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran
mengisyaratkan posisi Republik Islam Iran di kancah diplomasi dan posisinya dalam
menghadapi tantangan internasional. Rahbar menegaskan, “Sebagai contoh dalam
masalah nuklir, negara-negara imperialis dunia tetap tidak mampu mencapai
tujuannya, meski dengan melakukan kebohongan besar, kontroversi dan tekanan
terhadap Republik Islam Iran. Semua ini membuktikan kekuatan prinsip dan
bangunan Republik Islam Iran.”
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menekankan, “Republik Islam
Iran sejak awal mengumumkan bahwa ia berusaha mencapai kemampuan-kemampuan sains
dan teknologi di bidang nuklir dengan tujuan memanfaatkannya untuk memenuhi
kebutuhan damai, termasuk pemanfaatan energi nuklir.”
Beliau menambahkan, “Propaganda dan kontroversi yang diciptakan
oleh sebagian negara Barat termasuk Amerika, Inggris dan juga rezim Zionis
terkait masalah ini adalah kebohongan besar. Mereka sendiri tahu kalau sedang
berbohong dan penentangan semacam ini akan merugikan mereka sendiri.”
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan, “Meski
tekanan-tekanan yang mereka lakukan tidak sedikit, Republik Islam Iran telah
banyak mencapai kemajuan di bidang nuklirdan akan maju sampai pada batas yang diperlukan sehingga berdikari di bidang
sains dan teknologi ini.”
Saat mengkritik kinerja Badan Energi Atom Internasional
(IAEA), Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan, “Sebagian langkah dan laporan
Badan Energi Atom Internasional menunjukkan ketidakmandirian lembaga
internasional ini.”
Beliau menegaskan, “IAEA tidak boleh terpengaruh oleh
Amerika dan sebagian negara lainnya. Karena langkah-langkah sepihak semacam ini
akan menghancurkan kepercayaan terhadap IAEA dan PBB. Hal ini merusak citra
lembaga internasional ini.”
Seraya menekankan bahwa dasar kerja di Departemen Luar
Negeri adalah memajukan politik anti-hegemoni
dan memberikan pengaruh terhadap hubungan internasional dengan menggunakan
diplomasi kuat, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga menegaskan, “Diplomasi
berkualitas harus lebih diperhatikan dari sebelumnya dan setiap pertemuan atau
pembicaraan di bidang diplomasi harus betul-betul dipertimbangkan dan
berdasarkan antisipasi yang benar.”
Di bagian lain pidatonya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
menilai penting mengenal keluwesan cara diplomasi rumit dan perundingan bagi
para diplomat negara dan menambahkan, “Diplomasi umum adalah bagian dari
inisiatif Republik Islam Iran dan harus lebih diperhatikan.”
Rahbar juga menekankan untuk melakukan hubungan efektif
dengan warga Iran yang ada di luar negeri.
Di awal pertemuan ini, Menteri Luar Negeri Republik Islam
Iran, Manouchehr Mottaki menyampaikan penjelasannya tentang agenda pertemuan
para duta dan delegasi Republik Islam Iran di luar negeri tahun ini yang bertemakan
“perubahan managemen dunia, diplomasi berporos keadilan.” Mottaki mengatakan,
“Menguatkan posisi Iran dalam konstelasi politik dan ekonomi kawasan, menjamin
keamanan dan keuntungan bangsa, menguatkan jiwa solidaritas Islam, membela
muqawama di Palestina dan Lebanon, melawan penjajahan dan campur tangan
imperialis merupakan sejumlah tolok ukur politik luar negeri.”
Menteri
Luar Negeri juga menyampaikan laporannya tentang kerja Departemen Luar Negeri
di kawasan Timur Tengah, negara-negara anggota Commonwealth, Asia, Afrika,
Amerika Latin dan Eropa. Ditekankannya, “Terkait kawasan yang disebutkan itu,
telah diusahakan untuk memilah dan meninjau kembali sikap, hubungan cerdas di
tingkat internasional dalam kerangka tiga prinsip, kemuliaan, kebijaksanaan dan
kepentingan negara.”